Saturday, February 24, 2018

DIY Alfabet dan Angka

DIY Alfabet dan Angka

Udah lama lihat di televisi atau majalah tentang DIY (Do It Yourself). Awalnya gak ngerti tuh ngapain sih, terus pas tau "ohh, ini mah pelajaran kesenian dulu waktu sekolah" pikir saya. Suka banget liat orang-orang kreatif memanfaatkan barang-barang yang dianggap "sampah" menjadi benda yang unik bahkan tidak jarang malah bernilai tinggi. Nah berawal dari kagum, senang, dan niat berhemat maka saya iseng buat DIY ala ibu rumah tangga beranak satu, hehehe.

DIY pertama saya buat Hill yang masih 17 bulan adalah untuk mengenalkan Alfabet dan Angka.

Bahan-bahannya antara lain:
  1. Kertas A4
  2. Gunting
  3. Brosur tebal / Dus kemasan yang sudah tidak terpakai 
  4. Lem kertas 



Cara membuat :
  1. Buat draft alfabet dan angka di Ms.Excell, lalu print di kertas A4 (akan lebih baik lagi diberi warna, jadi bisa mengenalkan warna juga). Saya buat 1 lembar A4 untuk 4 alfabet/ angka.
  2. Gunting tiap alfabet/ angka tersebut.
  3. Tempel ke atas kertas brosur/ dus kemasan menggunakan lem kertas, lalu gunting rapi
  4. DIY Alfabet dan Angka pun selesai (^o^). 

Anggap saja seperti flash card tapi model minimalis. Hehee..
Semoga dapat menjadi inspirasi moms semua ya.

Happy Sharing ↖(^ω^)↗.

Baca juga artikel tentang : Mengatasi Alergi Pada Anak yuk!

Thursday, February 15, 2018

Magiclean Wiper Solusi Praktis Rumah Bersih

"Ketika akan bergabung di dalam komunitas, lihatlah seberapa positif komunitas tersebut akan membawa anda. Karena kebahagiaan bukan hanya sekedar menerima, namun juga berbagi untuk mereka yang membutuhkan...."


Beberapa pekan lalu saya menghadiri acara Mommyasia Blogger Gathering dengan tema "we care we share". Acara tersebut mengajarkan para moms untuk berbagi kepada sesama yang membutuhkan dengan membawa baju layak pakai dan diberikan kepada panitia. Selain itu, ada Talkshow dari Chichi Bernadus, Ibu dengan empat anak sekaligus communication specialistco-founder Komunitas MamaBoss Indonesia dengan tema "Share Your Thoughts and be Your Fellow Mom's Best Friend", dan Health talk dengan tema "Meningkatkan Tumbuh Kembang yang Optimal" oleh dr. Firda Fairuza, SpA.

Mbak Clara dari Magiclean Wiper (Kanan)

Dan tidak kalah menarik lagi ada informasi tentang Magiclean Wiper oleh mbak Clara. Kenapa saya katakan menarik? Karena saya pengguna Magiclean Wiper sejak Juli 2017. Saat itu saya masih bekerja pulang pergi Tangerang - Jakarta dan memiliki seorang putri berusia 10 bulan. Jujur saya sangat terbantu sekali dengan Magiclean Wiper yang praktis dan mudah digunakan, bahkan anak saya bisa ikutan bersih-bersih juga. Nah, ngomongin soal praktis pasti berhubungan dengan keunggulan stick ajaib yang satu ini dong! Berikut keunggulan dari stick ajaib Magiclean Wiper yang saya rasakan sendiri : 

Magiclean Wiper

1. PRAKTIS, gak perlu lagi tuh yang namanya peras pel-pel an tinggal ganti wipes nya saja kalau sudah kotor. Apalagi dengan kondisi saat itu kerja bisa hemat tenaga saya untuk main dengan anak.
2. RINGAN/ ERGONOMIS, stick nya bisa dipegang dan dipakai oleh anak, kebayang kan ringannya? :)
3. DAPAT DIATUR KETINGGIANNYA, fungsi satu ini penting banget buat anak saya yang lagi masa-masa "kepo", apa yang saya pegang pasti dia mau ikutan pegang juga. Stik Magiclean Wiper sendiri terdiri dari empat sambungan yang dapat disesuaikan ketinggiannya sesuai kebutuhan.
4. DAPAT BERPUTAR 360 derajat, sehingga saya bisa membersihkan kolong meja dan bangku tanpa perlu memindahkannya dari posisi awal.

Magiclean Wiper yang sering "dijajah" anak (T.T)
Terima kasih Mommyasia atas undangan Blogger Gatheringnya dan terima kasih Magiclean Wiper yang selalu menemani saya bersih-bersih rumah cuma dengan tiga tahap : Tempel-Bersih-Buang! (^.^)//

Happy Sharing dan Keep Caring With Others!



Friday, February 9, 2018

Pembelajaran Yang Tidak Akan Berakhir

Arah yang diberikan pendidikan adalah untuk mengawali hidup seseorang akan menentukan masa depannya 
(Plato).
Ngomongin soal pendidikan pasti langsung terkenang masa-masa sekolah, guru-guru yang baik dan killer, hingga mata pelajaran yang disukai dan tidak disukai. Sebenarnya 2 hal terakhir yang saya sebut saling berhubungan, kalau guru nya baik kita jadi suka mata pelajarannya, sebaliknya kalau guru killer kita jadi gak suka sama mata pelajarannya, padahal sebenarnya kita bisa menguasai pelajaran tersebut. Benar gak? Kalau saya iya begitu, hihihii. Dan akhirnya sekarang pas dalam kehidupan sehari-hari terpakai langsung nyesel, "kenapa dulu gak dengerin pelajaran ini."

Sebenarnya semua yang dipelajari saat sekolah itu terpakai dalam kehidupan sehari-hari, hanya saja dulu kita menganggap pelajaran hanya sekedar dengerin guru, ulangan, dapat nilai bagus, dan naik kelas. Padahal yaa ambil contoh geografi, dulu gak pernah dengerin guru ngajar, hasilnya pas udah kerja arah mata angin aja gak ngerti, mana barat mana timur kebolak balik, terus yang ngomel suami #curhat. Hahahaa... 

Nah, sekarang giliran mata pelajaran yang disukai. Dari SMP saya suka banget sama pelajaran jasa pembukuan, kalau sekarang terkenal dengan nama Accounting. Pertama, menurut saya seru ngitung-ngitung, apalagi kalau gak balance, bikin penasaran. Mana yang masuk asset, liabilities, equity, income, dan expense. Bertambah di debet atau kredit dan berkurang di debet atau kredit. Seru yaaa?? (¯▽¯).

Dan sampai saat ini pelajaran itu tetap bermanfaat, bahkan sekarang sebagai ibu rumah tangga, pembukuan kan harus saya yang urus. Walau gak serumit pembukuan perusahaan (^,^).

Kalau kalian masih ingat gak pelajaran yang disukai apa dan seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan saat ini? Yuk berbagi cerita kalian di komen ↖(^ω^)↗.

Happy Sharing!

Thursday, February 8, 2018

Bersyukur Tak Perlu Diukur

Seringkali kita dengar ungkapan "kehidupan itu seperti roda, kadang di atas kadang di bawah."

-ODOP, LIFE-
Setuju banget saya sama kalimat di atas, karena pengalaman pribadi. Tapi gak seperti di sinetron-sinetron yang jatuh banget atau mendadak jadi kaya banget. Bersyukur saya lahir di keluarga yang sederhana dan kedua orang tua tidak pernah sekalipun terlihat mengeluh dengan kondisi ekonomi mereka. 

Saat duduk di bangku sekolah dasar saya pindah ke Jakarta, tidak tahu bagaimana latar ceritanya, saya yang masih berusia 5 tahun akhirnya tinggal bersama tante (kakak dari mama). Tante saya membiayai pendidikan saya dari SD hingga kuliah, bahkan juga uang jajan diberikan. Kalau sekarang ditelaah, memang berbeda sekali ekonomi tante saya dengan kedua orang tua saya. Kalau orang tua saya belum ada tempat tinggal tetap (masih nomaden), tante saya punya rumah lebih dari satu di kawasan yang cukup strategis. Boleh dikatakan tinggal bersama tante saya lebih nyaman. Tapi nyatanya tetap berbeda perasaan tinggal di keluarga inti dengan "menumpang" di rumah saudara. Belum lagi menyatukan perbedaan sifat dengan sepupu sendiri (anak tante), kalau ada apa-apa ya sadar diri aja mengalah. 

Tapi namanya kesabaran ada batasnya juga, dan kekesalan yang dipendam terus menerus suatu saat pasti "meledak". Nah, akhirnya terjadilah demikian. Saat semester akhir kuliah saya putuskan keluar dari tempat tante saya dan tinggal di kost an yang sebulan hanya Rp 500.000 (tahun 2010). Disitulah saya merasakan titik terendah dalam kehidupan saya. Minta bantuan orang tua mustahil rasanya, malah akan buat mereka tambah stress. Beruntungnya saya tipe orang yang "positif", dalam perasaan terpuruk pun saya yakin bisa menghadapinya. Saat itu saya sudah magang di perusahaan sekuritas, gajinya cukuplah untuk bayar kost dan makan tiap bulan.

"Kalau rejeki gak akan kemana", benar banget! Puji Tuhan tahun 2014 saya dapat rejeki, bisa DP rumah di Bogor untuk orang tua. Dan 2015 saya bersama suami bisa lunasin cicilan rumah yang kami tempati di Tangerang. Mungkin terdengar biasa saja bagi yang lain, namun saya merasakan telah diangkat dari titik terendah. Dan dapat dikatakan titik teratas yang di dapat dari kerja keras  selama 5 tahun tersebut. Bangga? Tentu saja dan wajar buat saya asal tidak sombong ya. Karena memang belum ada yang pantas untuk disombongkan dari hal tersebut.

Dari perjalanan jatuh bangun ada beberapa poin yang mau saya garis bawahi :
1. Kesal dan Marah saat kita merasa di titik terendah sah saja, tapi jangan terlalu lama karena yang rugi diri sendiri. Waktu dan tenaga terbuang sia-sia, padahal orang yang membuat kita kesal mungkin gak sadar diri lagi asik makan dan jalan-jalan.
2. Bangga dan Bahagia saat kita merasa di titik teratas boleh banget! Karena itu artinya kita menghargai diri sendiri. Tapi, jangan sampai kebanggaan tersebut menjadi kesombongan. Ingat bahwa semua cuma titipan Tuhan dan saat meninggal gak ada satupun yang terbawa.
3. Selalu ingat bahwa Tuhan itu adil, walau kadang merasa "ih koq mereka udah jahat gak jatuh-jatuh ya, tetap aja di atas." Yakin? Mungkin aja Tuhan sentil mereka bukan dari segi ekonomi tapi sisi kehidupan lainnya, who knows?! <(¯3¯)>

Happy Sharing! \(^_^)/
#ODOPFeb18
#Life

Tuesday, February 6, 2018

Yuk Reuni Lagi!

-ODOP, FRIENDSHIP-

Reuni menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) adalah pertemuan kembali (bekas teman sekolah, kawan seperjuangan, dan sebagainya) setelah berpisah cukup lama. 

Kalau saya sendiri reuni biasanya berlima, bisa dibilang reuni gak ya? Boleh yaa kan intinya pertemuan kembali setelah berpisah cukup lama, gak ada minimal jumlah kan. Hehee. 

Reuni Kami Berlima (^,^)//

Berlima aja susah samain jadwalnya secara rumah udah pada berjauhan, banyak yang kerja, dll. Senangnya kalau ada event khusus (ulang tahun, bridal shower, pernikahan) jadwal langsung di kosongin supaya bisa ngumpul komplit berlima. Oh iya cerita sedikit ya, kami berlima teman dekat dari SMP dan pas SMA udah misah-misah. Waktu SMA sampai Kuliah kalau mau ketemuan masih gampang karena lokasi masih di jakarta semua. Pas udah mulai kerja berasa deh susah kumpul bareng lagi, jadi kalau pas bisa semua itu rasanya senang banget bagaikan mujizat (kedengarannya mungkin lebay tapi itu kenyataan yang saya rasakan, hehee).

Sekarang buat saya pribadi yang udah beranak satu reuni itu perlu loh, karena itu kesempatan "me time", hahahaa. Bahasa gaulnya kabur dari tugas kerumahtanggaan (¯▽¯)~. Tapi balik lagi kesibukkan masing-masing sehingga belum ketemu waktu untuk reuni lagi. Rasanya sih udah hampir 2 tahun gak reuni komplit berlima. Ahh topik ODOP hari kedua ini bikin baper kangen sahabat-sahabat SMP saya tersebut (T_T). 

Yukk atur waktu reuni!


#ODOPFeb18
#Friendship

Monday, February 5, 2018

Hati Damai Badan Sehat

Berdamai dengan diri sendiri...
-ODOP,CURHAT-
Mungkin kalimat tersebut terdengar aneh, tapi kenyataannya sulit dilakukan oleh saya sendiri. Bukan dalam artian saya membenci diri saya, tapi justru karena rasa kesal saya terhadap beberapa orang terdekat saya. Kalau nurutin ego sih saya akan bilang mereka salah dan saya yang benar, tapi seiring bertambah usia dan masukkan dari beberapa teman saya akui ada kesalahan dari sisi saya juga. Kesalahan utama yang saya lakukan adalah SIKAP saya saat menghadapi masalah tersebut. Emosi yang tidak terkontrol, perasaan kecewa, dan keinginan agar pihak yang berseteru dengan saya sadar diri. (Maaf untuk nama dan hubungan dengan orang tersebut saya tidak akan mention karena masih sangat sensitif, hihihii.)

Nah, tadi saya sempat tulis "beberapa orang",  kali ini saya akan bahas yang masih baru terjadi saja. Singkat cerita puncak kekesalan saya pertengahan tahun 2017, kekesalan tersebut dengan cepat berubah menjadi kebencian, dan salah satu penyebabnya karena saya selalu memendam rasa kesal tersebut. Saya tipe orang yang malas cari ribut, lebih baik diam daripada teriak-teriak, parahnya tipe seperti itu membahayakan diri sendiri! Karena kalau rasa kesal sudah tidak dapat terbendung, yang terjadi adalah luapan emosi yang meledak-ledak (tidak terkontrol), dan yang parahnya lagi (ini saya disadarkan oleh sahabat lama) hal tersebut dapat menjadi penyakit yang menggerogoti fisik saya. 

"Masa sih?" "Ah, itu mah cuma nakut-nakutin doank!"
Mau nya sih mikir begitu, tapi harus saya akui hal tersebut BENAR! Sejak saya kesal dengan orang tersebut kebahagiaan saya seperti hilang setengahnya, stress karena sering ketemu membuat hati saya tidak pernah merasa tenang, dan badan rasanya lelah terus. Bayangkan saja BB saya saat usia kehamilan 40 minggu 5 hari adalah 57.5 kg (naik 13.5 kg), dari sejak melahirkan 9 September 2016 hingga usia anak 3 bulan BB saya turun 17.5 kg, yang artinya defisit 4 kg. Banyak teman kantor yang iseng nyeletuk "cepet banget lo kurusnya wen, stress ya." Dalam hati mau bilang iya tapi nanti dikira baby blues, padahal bukan.

Mendapat teguran lembut dari sahabat saya dan instropeksi diri melihat kondisi fisik yang memang menurun, sejak itulah saya putuskan berdamai terlebih dulu dengan diri saya. Mulai melupakan kenangan pahit jaman dulu (kalau untuk memaafkan jujur belum sepenuhnya, saya baru mencoba melupakan saja) hingga melupakan kekesalan yang baru-baru saja terjadi. Sulit memang, tapi satu hal yang saya katakan kepada diri saya kalau tiba-tiba merasa kesal lagi terhadap orang tersebut, "ngapain bikin sakit diri sendiri, yang ada nanti orang itu senang saya menderita." Sejak itulah saya rasakan perubahan kondisi badan saya, hati lebih damai, stress berkurang, dan berat badan mulai balik normal, hehee.

Happy Sharing! v(^.^)v
#ODOPFeb18