Bersyukur Tak Perlu Diukur

February 08, 2018
Seringkali kita dengar ungkapan "kehidupan itu seperti roda, kadang di atas kadang di bawah."

-ODOP, LIFE-
Setuju banget saya sama kalimat di atas, karena pengalaman pribadi. Tapi gak seperti di sinetron-sinetron yang jatuh banget atau mendadak jadi kaya banget. Bersyukur saya lahir di keluarga yang sederhana dan kedua orang tua tidak pernah sekalipun terlihat mengeluh dengan kondisi ekonomi mereka. 

Saat duduk di bangku sekolah dasar saya pindah ke Jakarta, tidak tahu bagaimana latar ceritanya, saya yang masih berusia 5 tahun akhirnya tinggal bersama tante (kakak dari mama). Tante saya membiayai pendidikan saya dari SD hingga kuliah, bahkan juga uang jajan diberikan. Kalau sekarang ditelaah, memang berbeda sekali ekonomi tante saya dengan kedua orang tua saya. Kalau orang tua saya belum ada tempat tinggal tetap (masih nomaden), tante saya punya rumah lebih dari satu di kawasan yang cukup strategis. Boleh dikatakan tinggal bersama tante saya lebih nyaman. Tapi nyatanya tetap berbeda perasaan tinggal di keluarga inti dengan "menumpang" di rumah saudara. Belum lagi menyatukan perbedaan sifat dengan sepupu sendiri (anak tante), kalau ada apa-apa ya sadar diri aja mengalah. 

Tapi namanya kesabaran ada batasnya juga, dan kekesalan yang dipendam terus menerus suatu saat pasti "meledak". Nah, akhirnya terjadilah demikian. Saat semester akhir kuliah saya putuskan keluar dari tempat tante saya dan tinggal di kost an yang sebulan hanya Rp 500.000 (tahun 2010). Disitulah saya merasakan titik terendah dalam kehidupan saya. Minta bantuan orang tua mustahil rasanya, malah akan buat mereka tambah stress. Beruntungnya saya tipe orang yang "positif", dalam perasaan terpuruk pun saya yakin bisa menghadapinya. Saat itu saya sudah magang di perusahaan sekuritas, gajinya cukuplah untuk bayar kost dan makan tiap bulan.

"Kalau rejeki gak akan kemana", benar banget! Puji Tuhan tahun 2014 saya dapat rejeki, bisa DP rumah di Bogor untuk orang tua. Dan 2015 saya bersama suami bisa lunasin cicilan rumah yang kami tempati di Tangerang. Mungkin terdengar biasa saja bagi yang lain, namun saya merasakan telah diangkat dari titik terendah. Dan dapat dikatakan titik teratas yang di dapat dari kerja keras  selama 5 tahun tersebut. Bangga? Tentu saja dan wajar buat saya asal tidak sombong ya. Karena memang belum ada yang pantas untuk disombongkan dari hal tersebut.

Dari perjalanan jatuh bangun ada beberapa poin yang mau saya garis bawahi :
1. Kesal dan Marah saat kita merasa di titik terendah sah saja, tapi jangan terlalu lama karena yang rugi diri sendiri. Waktu dan tenaga terbuang sia-sia, padahal orang yang membuat kita kesal mungkin gak sadar diri lagi asik makan dan jalan-jalan.
2. Bangga dan Bahagia saat kita merasa di titik teratas boleh banget! Karena itu artinya kita menghargai diri sendiri. Tapi, jangan sampai kebanggaan tersebut menjadi kesombongan. Ingat bahwa semua cuma titipan Tuhan dan saat meninggal gak ada satupun yang terbawa.
3. Selalu ingat bahwa Tuhan itu adil, walau kadang merasa "ih koq mereka udah jahat gak jatuh-jatuh ya, tetap aja di atas." Yakin? Mungkin aja Tuhan sentil mereka bukan dari segi ekonomi tapi sisi kehidupan lainnya, who knows?! <(¯3¯)>

Happy Sharing! \(^_^)/
#ODOPFeb18
#Life

2 comments:

  1. Kadang memang rumput tetangga terlihat lebih hijau ya mbak, padahal kalau bersyukur semua terasa lebih enak jalananin hidup

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget bang :) Melihat tetangga selalu ada ketidakpuasan..hehee

      Delete

Yuk berbagi cerita kalian disini

Powered by Blogger.